Buntut Kasus Penyelundupan Harley Davidson Dari Timor Leste Tangisan Anak Istri Menghantar Paulus Tanmenu Ke Lapas

4399

Goberita.id  – Paulus Tanmenu digiring Jaksa Kejaksaan Negeri Belu ke Lapas Atambua pada Jumat 13 Maret 2020 pukul 17.00 Wita untuk menjalani masa pemenjaraannya.

Paulus Tanmenu adalah terpidana kasus penyelundupan 23 unit sepeda motor merek Harley Davidson dari Dili Timor Leste ke pelabuhan Atapupu pada September 2017 lalu.

Helio Moniz De Araujo, S.H., Kuasa Hukum Paulus Tanmenu menuturkan kepada Goberita, Paulus Tanmenu adalah sopir. Ia bekerja pada CV. Mega Timor Perkasa milik Fransiskus Valdano alias Asun Colega, perusahaan yang bergerak di bidang usaha ekspor barang ke Timor Leste.

Paulus Tanmenu harus menjalani masa pemenjaraannya karena sudah ada putusan Mahkamah Agung yang menyatakan dirinya telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana “Dengan sengaja dan tanpa hak membuka, melepaskan atau merusak kunci segel atau tanda pengaman yang telah dipasang oleh pejabat Bea dan Cukai” melanggar Pasal 105 UU Kepabeanan.

Sebagaimana kronologi kenadiannya, cerita Helio, pada 17 September 2017, Paulus Tanmenu mengantar barang ekspor dari Atambua ke Dili. Setelah berada di Dili, ia dihubungi oleh Boss (Fransikus Valdano) bahwa ada orang yang akan menyewa truk untuk muat barang impor dari Dili dan Boss sudah berikan nomor telepon Paulus Tanmenu kepada orang dimaksud dengan pesan kepada Paulus Tanmenu, “Tunggu saja, nanti akan ada orang yang kontak”.

Baca Juga:  Tidak Puas Rumahnya Dirusaki, Shanty Taolin Lapor Polisi

Pada 22 September pagi, ada tiga orang mendatangi Paulus Tanmenu di tempatnya di Audian Dili. Paulus Tanmenu tidak kenal mereka, hanya tahu saja bahwa dua orang etnis Timor dan satu orang etnis China.

Mereka mengajak Paulus Tanmenu ke suatu gudang di Aimutin Dili, lalu ada Forklift yang mengangkat 25 peti kayu tertutup rapat dan dimuat ke truk. Mereka tidak memberitahukan barang apa dan Paulus Tanmenu pun tidak tanya karena tugasnya hanya menerima barang dan mengantarnya ke tempat tujuan.

Setelah selesai muat, Paulus Tanmenu menuju ke batas Batugade-Motaain, namun ia tidak bisa melintas batas karena orang yang bertugas mengurus dokumen impor di batas mengatakan belum mendapat izin dari pejabat Bea dan Cukai. Ia pun menginap di batas pada malam tanggal 22 September 2017 tersebut.

Lebih lanjut, Helio menjelaskan, besok harinya 23 September 2017, Paulus Tanmenu sudah diberi izin melintas batas.

Setelah pemeriksaan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, petugas menyegel kendaraannya dan menyuruhnya silakan melanjutkan perjalanannya.

Kemudian, Paulus Tanmenu terus menuju ke pelabuhan Atapupu, lalu membuka segel Bea dan Cukai dan menurunkan barangnya di sana, kebetulan sudah ada orang yang menunggu kedatangannya di sana.

Setelah menurunkan barang di pelabuhan Atapupu, Paulus Tanmenu pulang ke Atambua tanpa ada masalah.

Baca Juga:  Pemda Belu Akan Tindak Tegas Pendata Penerima Bantuan Tunai Covid Yang Tidak Sesuai Juknis

Setelah satu minggu kemudian, pihak Intel Kodim Belu menangkap adanya praktik penyelundupan barang dan terbongkar bahwa barang yang dibawa oleh Paulus Tanmenu adalah spare part sepeda motor Harley Davidson dan dokumen impornya bermasalah. Isi di dalam dokumen tertulis alat listrik dengan tempat tujuan ke Distrik Oecusse Timor Leste sebagai barang transit, tetapi perintahnya kepada Paulus Tanmenu ke pelabuhan Atapupu, bukan ke Distrik Oecusse Timor Leste.

Sejak ketahuan sebagai barang selundupan tersebut, pihak Bea dan Cukai mulai melakukan penyelidikan hingga menetapkan Paulus Tanmenu sebagai tersangka tunggal, sementara pemilik barang diketahui bernama Doni, tinggal di Malang, tetapi belum diketahui keberadaannya dan sampai sekarang masih buronan.

Persidangan terhadap Paulus Tanmenu pun akhirnya digelar di Pengadilan Negeri Atambua pada awal Maret 2019.

Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Belu menuntut Paulus Tanmenu dengan hukuman penjara 2 tahun 6 bulan dan pidana denda 1 miliar subsider 3 bulan kurungan dengan perintah supaya Terdakwa segera ditahan di Lapas Atambua.

Namun demikian, putusan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Atambua lebih ringan, yakni hukuman penjara selama 1 tahun tanpa pidana denda dan tanpa ditahan sebagaimana tuntutan Penuntut Umum. Demikian pula barang bukti satu unit Container 40 Ft dan 25 kotak kayu berisi spare part sepeda motor Harley Davidson dan kendaraan truk Hino milik Fransiskus Valdano yang dituntut supaya dirampas untuk negara oleh Jaksa, hanya Container dan 25 peti kayu dengan spare part sepeda motor Harley Davidson yang dinyatakan dirampas untuk negara oleh Majelis Hakim, sedangkan truk Hino dikembalikan kepada Fransiskus Valdano sebagai pemiliknya.

Baca Juga:  Tepis Isu NasDem Dukung Belu Memanggil, Jhon Aliuk: SK Sudah Ada Untuk SEHATI

Masih menurut Helio, atas putusan tersebut, dirinya meminta banding dan putusannya tetap, kemudian ia meminta kasasi ke Mahkamah Agung dan putusannya tetap, tidak berubah. “Ini sudah putusan tingkat akhir, terima sudah. Saya sudah berusaha hingga titik terakhir tetapi inilah hasilnya. Saya berdoa dan berempati semoga terpidana dan keluarganya bisa menjalani semuanya ini dengan baik. Semua ada hikmahnya”, kata Helio mengakhiri penuturannya kepada Goberita.

Sebagaimana kemarin 13 Maret 2020 pukul 10.00 Wita, Paulus Tanmenu didampingi oleh istrinya, Maria Bernadete Nese, keempat anaknya yang masih kecil, dan Fransikus Valdano menuju ke Kantor Kejaksaan Negeri Atambua. Setelah Jaksa menyiapkan segala administrasinya, Jaksa membawa Paulus Tanmenu yang sudah terpidana ke Lapas Atambua pada pukul 17.00 Wita.

Tangis istri dan anak-anaknya terlihat ketika mereka harus berpisah dengan Paulus Tanmenu. YP

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

Comments

comments