Cara Unik Masyarakat Adat Weutu Kabupaten Belu NTT Menangkal Virus Korona

0
2406
Foto: Marten Asa Buti

Go Berita. Id. Atambua. Penangkalan pandemi virus Korona (Covid 19) menjadi perhatian utama masyarakat dunia, bukan hanya di kota melainkan hingga masyarakat di belahan udik sekalipun.

Masyarakat Dusun Weutu, arah timur Kabupaten Belu yang berbetasan dengan Timor Leste, melaksanakan tradisi adat menangkal kehadiran Covid 19 di tempatnya pada hari ini (22/03).

Masyarakat adat Weutu sudah lama memiliki tradisi menangkal wabah penyakit atau hama yang menyerang manusia, tanaman maupun ternak. Hal itu pula yang dilakukan untuk menangkal kehadiran dan penyebaran Covid 19 di tempatnya.

Marten Asa Buti, pemuda setempat yang ikut menggagas dan melaksanakan acaranya, mengatakan kepada Go Berita, “Saya sendiri ikut tergerak melaksanakan ritual adat seperti ini karena, sesuai pengalaman 2 tahun lalu, saat wabah belalang menyerang tanaman jagung dan padi di beberapa kabupaten, masyarakat Weutu melakukan acara ini dan hasilnya tanaman jangung dan padi di sini bebas dari hama belalang”.

Acara dimulai dengan adanya kesepakatan antara 9 ketua suku di Weutu. Para ketua suku, setelah kesepakatan, mengumumkan kepada anggota sukunya. Selanjutnya tiap kepala keluarga atau satu rumah mempersiapkan uang logam, abu dapur, dan sepotong kayu api yang diambil dari tungku dapur; harus yang sudah bekas pakai.

Uang logam, yang banyaknya disesuaikan dengan jumah anggota keluarga, ditaruh dalam nyiru bersama-sama dengan abu dapur dan kayu api, dibawa ke Rumah Adat yang disebut Uma Belebu. Kemudian Tua adat Belebu menyampaikan doa-doa dalam bahasa setempat kepada leluhur di Uma Belebu. Setelah permohonan di Uma Belebu, ketua suku bersama anggota suku melakukan ritual keliling, menelusuri batas kampung. Hal ini dimaksudkan untuk memagari kampung dari pengaruh-pengaruh jahat yang datang dari luar.

Baca Juga:  Bupati Belu Umumkan Pola Penanganan dan Kesiapan Pemda Hadapi Lonjakan Covid

Ketika ritual keliling kampung, tua adat Belebu menguburkan 2 butir telur ayam, masing-masing pada pintu masuk dan pintu keluar kampung, dan pada titik-titik tertentu yang lain, yang memiliki nilai historis, tua adat memercikkan darah hewan kurban.

Terakhir, tetua adat dan masyarakat bersama-sama pergi ke tempat pemali (yang disakralkan dalam tradisi) yang disebut “Aitumalara”. Tempat itu sendiri berupa suatu hutan dan sumur serta mazbah batu yang dilarang untuk dirusak dan dimasuki oleh sembarang orang tanpa izin dari tetua adat. Uang logam, abu dapur, dan kayu api bekas tadi, semuanya dibuang dan ditinggalkan di Aitumalara.

Uang logam perlu sebagai sarana hakasuk, yaitu dibuang sebagai pertanda membuang sial yang kemungkinan sudah atau masih akan menimpa seisi keluarga. Abu dapur dan kayu api bekas yang dibuang bersama-sama dengan uang logam menandakan pembersihan rumah dari segala kotoran (penyakit). Dengan demikian, setiap anggota keluarga yang berdiam dalam rumah di kampung Weutu yang telah dipagari sebelumnya itu akan terhindar dari bahaya penyakit Covid 19 ini. YP

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here