Pendapat Para Ahli Tentang Puncak Kurva Epidemi Korona-19 di Beberapa Negara

347
Photo-Illustration: The Cut; source imagery: Vox

Tim Goberita.Id – Puncak kurva, terkait penyebaran wabah seperti penyakit virus Korona-19, adalah suatu garis pasang-surut atau peningkatan dan penurunan penyebaran wabah yang awalnya dari titik nol kemudian mulai timbul penyakit selanjutnya menjadi wabah dengan angka penderita yang terus meningkat seiring waktu sampai puncaknya, hingga tidak ada lagi angka kenaikan selanjutnya yang lebih tinggi, melainkan mulai menurun pelan-pelan hingga ke titik nol seperti semula. Dengan kata lain, titik puncak adalah titik tengah antara bidang kiri sebagai titik mulai muculnya wabah dengan bidang kanan sebagai titik mulai hilangnya wabah.

Mark Lurie, profesor epidemiologi di Brown University School of Public Health, sebuah sekolah tinggi ilmu kesehatan masyarakat di Rhode Island AS mengakatan, “Kurva epidemi adalah apa yang ingin kita lihat untuk menilai keadaan epidemi dan puncaknya adalah hari di mana ada jumlah kasus tertinggi, setelah itu jumlah kasus akan mulai menurun” dan “Menurut definisi, 50% kasus akan terjadi setelah puncak”, demikian tulis Amanda Arnold mengutip pernyataan Lurie dan dimuat di The CUT (31/03) kemarin.

Sehubungan dengan itu, Goberita.Id akan melansir pendapat para ahli yang kredibel dan dikutip dari berbagai sumber terpercaya tentang kapan epidemi virus Korona-19 akan mencapi titik puncak dan selanjutnya akan mulai menurun hingga berakhir.

Baca Juga:  Perebutan Kekuasaan Timor Leste: Antara Dejure Dan Defacto

Kepala Staf Kesehatan Nasional Inggris, Dr. Jenny Harries, mengatakan bahwa titik puncak penyakit virus Korona-19 di negaranya akan mencapai puncaknya pada 12 April 2020 ini, tulis Claire Schofield dan dimuat di HarterpoolMail.co.uk (31/03) sambil mengutip Harries, “Jika orang bisa menghentikan interaksi sosial mereka, kita akan mulai melihat perubahan kurvanya”.

Pada laman lainnya, Dr. Jenny mengatakan, sebagaimana tulis Hana Carter dan Debie White, “Titik puncak akan berjalan ke depan jika orang mematuhi petunjuk dari pemerintah untuk tinggal di rumahnya selama selama beberapa bulan ke depan” sebagaimana dimuat di The SUN (30/03).

Lebih lanjut Hana Carter dan Debbie White menulis dalam laman yang sama dengan mengutip pendapat para ahli bahwa para ahli awalnya mengatakan, penyebaran virus corona terburuk adalah antara akhir Mei dan akhir Juni dengan 95 persen infeksi terjadi dalam jangka waktu itu. Jika suhu dan kelembaban pada tahun 2020 ini sama dengan tahun 2019, maka iklim Inggris akan mendukung virus selama musim semi, sehingga harapannya adalah suhu panas pada musim panas nanti dapat menghambat penyebaran virus, sama halnya dengan flu.

Baca Juga:  Cara Israel: Rumah Makan Buka, Tapi Pengunjung Tidak Boleh Datang

Di Jerman, kurvanya mulai dipercaya telah mencapai puncaknya. Lothar Wieler, Kepala Institut Kesehatan Jerman, mengatakan kepada SkyNews, “Kami melihat bahwa angka penambahan wabah mulai bergerak datar” sebagaimana tulis Claire Schofield dan dimuat di HarterpoolMail.co.uk dalam laman yang sama.

Brandi Cummings, reporter KCRA, menulis bahwa Para ahli dari University of Washington menggunakan data dari Evaluasi Metriks dan Kesehatan dari institusi untuk memperkirakan dampak coronavirus pada setiap negara bagian, dan negara secara keseluruhan untuk memprediksi kapan puncak kurva kasus dan kematian yang akan terjadi.

Model kurva menunjukkan negara bagian mana yang telah memberlakukan warganya untuk menetap di rumah, jumlah tempat tidur rumah sakit, unit perawatan intensif dan ventilator yang tersedia dibandingkan dengan tingkat kebutuhannya.

Berdasarkan itu, tulis Brandi Cummings dan dimuat di KCRA (31/03), Amerika Serikat dapat melihat puncaknya pada 15 April, sedangkan negara bagian California baru akan mencapai puncak pada 26 April. Negara bagian ini tidak diproyeksikan memiliki kekurangan tempat tidur atau ICU, tetapi ada kekurangan ventilator.

Baca Juga:  Warga Malaysia Melanggar Perintah Lockdown

Di Indonesia, penulis sekaligus editor KOMPAS.com, Gloria Setyvani Putri, seperti yang dilansir KOMPAS.com (23/03) bahwa Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi, penyebaran Covid-19 di Indonesia akan mencapai puncak pada minggu kedua atau ketiga April dan berakhir akhir Mei atau awal Juni. Prediksi itu berdasar hasil simulasi dan pemodelan sederhana prediksi penyebaran Covid-19 yang dilakukan Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) ITB.

Menurut Dr. Nuning Nuraini, S.Si, M.Si, tulis Gloria Putri, terjadi pergeseran hasil dari yang ramai dibicarakan sebelumnya. Dalam salah satu artikel yang dimuat di situs resmi ITB pada Rabu (18/3/2020) lalu, Nuning berkata bahwa hasil kajian menunjukkan penyebaran Covid-19 mengalami puncaknya pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020 dengan kasus harian baru terbesar berada di angka sekitar 600.

Sepanjang berita ini dilansir, China dan Korea Selatan telah resmi menyatakan negaranya telah melewati masa puncak dan kurvanya sudah bergerak mendatar sebagaimana semula.

Link terkait:

https://www.thecut.com/2020/03/when-will-the-coronavirus-peak-in-the-u-s.html;

https://www.kcra.com/article/researchers-predict-california-peak-covid-19-cases/31984677;

https://www.thesun.co.uk/news/11165323/when-coronavirus-pandemic-peak/;

https://www.hartlepoolmail.co.uk/read-this/when-coronavirus-expected-peak-uk-based-infection-rate-and-how-italy-compares-2519754;

https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/23/115440523/prediksi-penyebaran-corona-di-indonesia-berubah-berakhir-awal-juni;

 

 

 

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

Comments

comments