Situasi Sedang Memanas Dalam Gedung Parlemen Timor Leste

1100

Gobrita.Id – Krisis kepemimpinan sedang terjadi di Timor Leste pasca kejatuhan Kabinet VII di bawah PM Taur Matan Ruak.

Timor Leste, negeri berjuluk “matahari terbit,” sedang diselimuti kabut mendung di tubuh pemerintahan. Kabinet VII di bawah payung Koalisi Mayoritas Parlemeter (AMP) pimpinan PM Taur Matan Ruak harus bubar setelah koalisi pecah. Taur, mantan Panglima Falintil, sayap militer perlawanan kemedekaan Timor Leste, yang diusung PLP (Partai Pembebasan Rakyat) dan didukung Partai CNRT (Kongres Nasional Untuk Rekonstruksi Timor Leste) di bawah Xanana Gusmao, Bapak Kemerdekaan Timor Leste, terakhir ditinggalkan Partai CNRT.

Dalam sidang paripurna Parlemen Nasional membahas Rancangan Anggaran Belanja Timor Leste Tahun 2020 Januari lalu, Partai CNRT mengambil sikap abstain, sementara oposisi Partai Fretilin menolak. Akibatnya, rencana anggaran hasil rancangan Taur pun tidak lolos di Parlemen.

Baca Juga:  Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Belu Sampaikan Pemandangan Umum Dalam Rapat Paripurna. GO-PDIP BELU

Sesuai konstitusi Timor Leste, suatu pemerintahan di bawah seorang perdana menteri berakhir apabila parlemen mengajukan mosi tidak percaya atau rancangan anggarannya ditolak parlemen sebanyak dua kali berturut-turut atau selama masa 60 hari. Jika pemerintah berakhir oleh sebab demikian, konstitusi memberikan kesempatan kepada parlemen untuk membentuk koalisi dan mengajukan susunan kabinet baru dan diajukan kepada presiden republik untuk mendapatkan pengesahan.

Setelah kejatuhan Kabinet VII, CNRT membentuk koalisi bersama partai lain dengan suara mayoritas di parlemen membentuk Kabinet VIII dan menunjuk Xanana sebagai Perdana Menteri menggantikan Taur.

Kabinet VIII tak kunjung dilantik Presiden Lu Olo. Taur yang sudah demisioner pun masih harus melaksanakan tugas sebagai Perdana Menteri. Hingga, waktu berselang, Partai Khunto menarik diri dari koalisi baru, meninggalkan Partai CNRT dan Xanana menyeberang ke PLP dan Fretilin. Bukan hanya bergabung, PLP, Fretilin, dan Khunto malah mengajukan susunan kabinet baru kepada Presiden Lu Olo.

Baca Juga:  Angka dan Proyeksi Pandemi Korona-19 di Indonesia

Dalam sebuah keterangan pers disiarkan oleh GMN-TV, Xanana berbicara panjang lebar, mengatakan mereka telah menghadap Presiden Lu Olo, tetapi Presiden Lu Olo menolak, karena UU Partai Politik mengatur bahwa koalisi harus didasarkan pada hasil Kongres Partai, yang mana semua partai yang bergabung dalam koalisi baru di bawah Xanana belum menyelenggaran kongres. Atas jawaban tersebut, kata Xanana, dirinya bersama-sama dengan partai anggota koalisi telah menyelenggarakan kongres, memenuhi apa yang disebutnya “petunjuk Presiden” dalam wawancaranya tersebut.

Krisis pada tubuh pemerintahan itu berlanjut hingga ke tubuh parlemen. Presiden Parleme Timor Leste dipegang oleh Partai CNRT dengan dua orang wakil masing-masing dari Khunto dan PLP. Presiden PN menolak diadakannya rapat dengan agenda pembahasan koalisi baru yang diajukan oleh PLP-Fretilin-Khunto. Atas penolakan tersebut, kedua Wakil Presiden PN menyatakan siap memimpin jalannya sidang pada hari ini.

Baca Juga:  ISIS Lebih Memilih Cuci Tangan Daripada Serang Eropa

Sekarang ini, Senin (18/05) pukul 09.00 Waktu Timor Leste, sedang digelar rapat dimaksud. Keributan pun tak terelakkan. Partai CNRT menduduki meja pimpinan dan menolak menyerahkan kursi dan palu pimpinan kepada koalisi. Alasannya, meniru kata Presiden Lu Olo sebelumnya, PLP-Fretilin-Khunto harus mengadakan kongres nasional sebagai syarat membentuk suatu koalisi.

Hingga berita ini diturunkan, kekisruhan masih berlangsung di gedung PN Timor Leste dan sidang belum bisa terlaksana.

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

Comments

comments