Beralamat Jelas Namun DPO Moge HD 2017 Sampai Saat Ini Belum di Temukan

594

 

Goberita.Id. Mega Kasus Motor Gede (Moge) Harley Davidson di Belu tahun 2017 menetapkan dua orang dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Kedua orang tersebut sampai saat ini belum ditemukan padahal memiliki alamat jelas.

Belum ditemukan dua DPO tersebut dikatakan Maezun Najib, Penyidik Beacukai Atambua  pada saat Rapat Dengar Pendapat bersama DPRD Belu di ruang Komisi, Jumat (15/05/2020).

Hal ini memancing reaksi dari DPRD Belu. Edmundus Tita, DPRD Belu dari Partai NasDem menyatakan sikap tegas dan mempertanyakan keberadaan DPO tersebut.

” Mau jadi apa Negara ini kalau aparatnya kerjanya begini, orang kecil yang salah cepat sekali ditangkap dan diproses tapi melibatkan Kapitalis dibiarkan saja, Kita punya teknologi yang canggih, bisa cek keberadaan pelaku kejahatan kapan saja, teroris dan pelaku sms gelap tidak sampai sehari sudah ditangkap ini kok alamatnya jelas sekali tidak ditemukan, ada apa ini?” tegas Mundus.

Baca Juga:  Empat Remaja di Naitimu Dianiaya Tanpa Sebab, Ada Korban Dibawah Umur. Pelakunya Pemain Lama

Sedangkan Ketua Komisi 2 DPRD Belu, Theodorus Frederikus Seran Tefa, mengatakan bahwa semacam terjadi pembiaran terhadap pelaku utama. Theo mengatakan hal tersebut karena pihak becaukai mengatakan bahwa setahun kemudian baru keduanya ditetapkan sebagai DPO. Politisi Partai Golkar ini menilai bahwa terjadi rentang waktu yang panjang dan membuat pelaku leluasa bahkan keluar Indonesia. Theo juga mengatakan bahwa ada kelemahan koordinasi lintas sektoral terkait menemukan dan menghukum DPO ini.

Ketika ditanyakan kepada Pihak Imigrasi, menurut Thalib petugas Imigrasi yang hadir saat itu, Pihaknya sampai saat ini belum melakukan pencekalan kepada kedua DPO tersebut. Alasannya pihak imigrasi belum mendapatkan surat resmi dari pihak terkait.

Baca Juga:  Tidak Ada Bantuan 7,5 Juta dari Koperasi, Balthasar: Kasihan Masyarakat Sudah Susah Ditipu dan Dibuat Tambah Susah

Keduanya ditetapkan sebagai DPO saat itu oleh Petugas Penyidik Beacukai, Dickson Adie Papy Riwu alias Ama Dicky sejak tanggal 31 Agustus 2018. Ama Dicky ini yang disebutkan dalam putusan pengadilan sebagai orang yang dihubungi oleh Oknum Polisi AB dab MH saat mobil yang dikendarai Paulus Tanmenu tidak bisa melintas batas. AB memfoto peti kemas tersebut dan mengirim ke Ama Dicky setelah dua malam Paulus Tanmenu dibatas karena tidak mendapat ijin.

Kedua DPO tersebut adalah, Pertama, Doni Aryanto dengan alamat Jalan Raya Kauman Nomor 51 RT/RW: 001/011, Srengat Blitar Jawa Timur. Doni, pemilik HD pada tanggal
22 September menghubungi Maxi Keru (Kepala Operasional Ekspedisi Mentari). Tangal 23 Doni menemui Maxi dan meminta Container 40 FT untuk angkut barang yang akan tiba jam 12.00 dan akan diberangkatkan dari Atapupu ke Surabaya. Kedua, Samuel Tan pemilik Sparepart Moge HD beralamat Darmo Permai Utara 1/14, RT/RW: 001/001 Tanjungsari, Sukomanunggal.

Baca Juga:  Manuel Do Carmo: Saya Minta Semua OPD Bermitra Dengan Media

Kuasa Hukum Paulus Tanmenu, Silvester Nahak, diberita sebelumnya meminta agar Pihak Beacukai mencari dan menemukan para pelaku tersebut. Menurutnya alamat keduanya jelas dan selama masih di Indonesia bisa ditemukan sejauh ada niat untuk membongkar kasus ini. Dirinya dan rekan-rekan lain sudah mempelajari dokumen untuk melakukan Peninjauan Perkara dan gugatan perdata terhadap lembaga-lembaga yang merugikan kliennya Paulus Tanmenu diantaranya Beacukai. YP.

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

Comments

comments