Timor Leste Ibarat Kanker Kulit, Mulus Di Permukaan, Bobrok Di Dalam (Wawancara Eksklusif Dengan Kiera Zen)

0
7361
Kiera Zen (Foto: Koleksi Goberita.Id)

Goberita.Id – Demi mendapatkan gambaran situasi Timor Leste yang benar, paling tidak yang netral, Goberita.Id menghubungi Kiera Zen via aplikasi WhatsApp langsung dari Dili Timor Leste.

Goberita.Id menganggap Kiera bisa memberikan gambaran dari sudut pandang berbeda. Ia adalah tokoh informal, seorang musisi Timor Leste yang memilih menjadi petani, tidak berkepentingan dengan pemerintahan atau menjalin kerjasama dengan pihak pemerintah. Ia juga tidak terlibat dalam salah satu partai politik. Ia, sebaliknya, adalah pendiri lembaga Insight Timor Leste yang banyak melakukan survey politik, ekonomi, sosial dan budaya Timor Leste untuk digunakan oleh lembaga-lembaga internasional yang membutuhkan pasca kemerdekaan Timor Leste. Ia juga adalah eks pemimpin program Civic Education UNDP Timor Leste, punya pengalaman menanamkan pendidikan kewarganegaraan bagi masyarakat hingga ke pelosok-pelosok di awal kemerdekaan.

Berikut adalah hasil wawancaranya (GB = Go Berita.Id, KZ = Kiera Zen).

GB: Bagaimana pendapat Anda terkait persoalan pemerintahan Timor Leste yang sedang terjadi sekarang ini?

KZ: Terlepas dari massa tiga tahun pemerintah mengalami deadlock, saya ingin mengatakan, situasi politik dari aspek keamanan dan ketertiban, ya aman-aman saja, kondusif, tetapi tensi politik yang terjadi sebenarnya tinggi sekali dan rawan, bisa meledak ke permukaan secara tiba-tiba dan kapan saja.

GB: Apa maksud Anda aman-aman saja, tetapi tensi politiknya rawan?

KR: Maksud saya, Timor Leste ibarat kanker kulit. Ia kelihatan mulus-mulus saja di permukaan, tetapi di dalamnya sedang bobrok, dan bobroknya itu menjalar ke mana-mana sebagai akar persoalan yang aktif. Pemerintah tidak pernah mengobati atau menyentuh sampai ke akar persoalan ini. Semuanya terkesan tambal-sulam saja.

GB: Anda bisa memberikan contohnya?

KZ: Banyak hal yang terjadi dan dibiarkan. Rekonsiliasi (antara pro integrasi dan pro kemerdekaan, Red. GB) tidak tuntas. Dalam situasi tertentu, hal ini muncul ke permukaan sebagai penghambat kemajuan. Padahal, itu sudah masa lalu, tetapi tidak pernah ada habis-habisnya. Itu adalah contoh. Apabila ada perbedaan politik di masa sekarang, dibawa-bawa hingga ke masa lalu. Padahal, kita sudah masuk ke era baru, era kemerdekaan. Mereka yang pro integrasi sudah menerima kemerdekaan, ada yang sudah memilih kehidupannya di Indonesia. Mereka paham itu, tetapi niat mereka memang sengaja, ingin memelihara konflik di tengah masyarakat.

GB: Anda mengatakan ada pembiaran tadi. Apa dampak dari pembiaran itu?

KZ: Mereka bukan hanya membiarkan sebenarnya, bahkan menularkan. Seperti kanker itu, penyakitnya menjalar ke mana-mana. Awalnya, saya sempat berpikir, malah berharap, generasi mendatang akan berbeda pemikirannya, akan meninggalkan masa lalu. Faktanya lain, anak yang baru kemarin sore, masih ingusan dan belum lahir tahun 1999 malah berbicara lebih lantang dari aktor-aktor tahun 1999. Apa yang kita harapkan dari generasi baru dengan warisan pemikiran seperti ini.

GB: Ya, maksud Anda bukan hanya membiarkan, tetapi juga menularkan. Pertanyaannya belum Anda jawab, apa dampaknya?

KZ: Dampaknya adalah konflik. Setiap konflik tampaknya seperti konflik tunggal tetapi merembetnya ke mana-mana dan terakumulasikan sampai pecah bersamaan pada suatu ketika. Dalam konflik politik tahun 2005 hingga menyebabkan Alkatiri (PM Timor Leste dari Partai Fretilin yang memperjuangkan kemerdekaan, Red. GB) jatuh, muncul isu siapa pro kemerdekaan dan siapa bukan, pemecatan 500 orang anggota FDTL (Tentara Pertahanan Timor Leste) tahun 2006 juga sama, hingga menimbulkan konflik tahun 2008 yang disebut kasus Mayor Alfredo. Sama seperti kasus rekonsiliasi yang tidak pernah tuntas, kasus-kasus berikutnya itu pun tidak ada yang terselesaikan. Semuanya selesai di atas meja, di atas kertas, di belakang-belakang, tetapi ke depannya meninggalkan potensi konflik yang berkepanjang, siap meledak.

Baca Juga:  Patahkan Klaim Sehati, Garuda Merah Resmi Dukung Sahabat

GB: Jika demikian, apa pendapat Anda terkait penyelesaian masalah-masalah itu. Apakah harus dibuka kembali?

KZ: Membuka luka lama?

GB: Ya

KZ: Itu tidak mungkin. Maksud saya menyelesaikan keterikatan dengan kasus-kasus yang lama.

GB: Caranya?

KZ: Caranya, kita harus membangun generasi untuk masa depan, bukan untuk mewarisi masa lalu. Generasi masa depan adalah generasi yang terlepas dari konflik masa lalu. Hal ini yang tidak pernah dipikirkan atau sengaja tidak mau dipikirkan oleh elit politik Timor Leste selama ini demi kepentingan mereka. Padahal sebagai potensi akan meledak sewaktu-waktu.

GB: Kenyataannya kan tidak meledak. Anda sendiri mengatakan situasi sekarang aman-aman saja.

KZ: Situasi sekarang aman-aman saja justru karena kesadaran masyarakat untuk tidak berkonflik, bukan tidak ada masalah. Masyarakat belajar dari pengalaman bahwa yang akan menjadi korban pabila konflik terjadi adalah masyarakat sendiri. Hal kesadaran ini yang masih menjadi faktor penolong untuk sementara ini. Misalnya, pemerintah sudah janjikan akan memberi subsidi $100 per keluarga akibat Covid-19, realisasinya belum jelas, masyarakat kecewa, tetapi tidak ada pemikiran mau konflik. Masyarakat sepertinya sudah sampai kepada tingkat krisis kepercayaan kepada pemerintah ini, tetapi memilih diam saja. Pemerintah tidak bantu masyarakat $100 itu pun masyarakat sendiri sudah saling membantu. Tenaga kerja Timor Leste di Irlandia, di Inggris, pihak Gereja, komunitas dalam Timor Leste, masing-masing mengadakan sumbangan untuk menolong sesama.

GB: Anda menyebut masyarakat sudah sampai pada tingkat krisis kepercayaan kepada pemerintah tetapi memilih diam. Apakah masyarakat menganggap pemerintah bukan pilihan terbaik untuk menyelesaikan masalah masyarakat? Semacam masyarakat sudah jenus atau apatis begitu?

KZ: Ya, betul. Hal ini karena pemerintah tidak memahami masalah penderitaan masyarakat. Pemerintah boleh berpikir bahwa masyarakat baik-baik saja, padahal masyarakat sudah lama menderita. Pemerintah harus belajar dan berterima kasih kepada Covid-19. Karena Covid-19, masalah kemiskinan di ibu kota Dili bisa terbuka secara nyata. Yang saya maksudkan masalah pemenuhan makan-minum mereka yang berada di Dili ya, karena beda dengan yang di daerah-daerah, yang mana soal pemenuhan makan-minum bukan soal, mereka punya kebun. Di Dili, hal pemenuhan makan-minum yang tidak cukup ini sudah lama ada dan terjadi, tetapi siapa yang melihatnya? Untung ada Covid sehingga bisa terungkapkan secara jelas dan terang bahwa masyarakat dalam kota Dili saja sangat rawan kelaparan.

Baca Juga:  Puluhan Warga Maudemu Datangi Rumah MLL, Tanya Kepastian 7,5 Juta dan Bantuan Kelompok Tenun

GB: Anda menyebut ada persoalan ekonomi di Dili dan sudah lama terjadi. Apa contoh konkretnya?

KZ: Contoh konkretnya, misalnya, seorang pekerja buruh di Dili mendapat penghasilan $105 per bulan. Rata-rata di Kota Dili, tidak semua orang mendapatkan pekerjaan. Satu keluarga bisa hanya ada satu yang kerja, 10 orang menumpang saja. Nah, beras satu karung $15, jika ada 10 orang maka itu hanya cukup buat 1 minggu, berarti dia butuh 4 karung, sudah $60. Sisanya berapa buat bayar listrik, beli sayur, anak sekolah, beli pakaian. Semua hal ini terjadi tetapi pemerintah tidak tahu itu. Pemerintah lebih memikirkan kekuasaan dari pada tugas dan kerjanya apa.

GB: Anda menyebut, pemerintah lebih memikirkan kekuasaan dan bukan ekonomi masyarakat. Apa gambaran konkretnya tentang perebutan kekuasaan terhadap ekonomi masyarakat?

KZ: Lha, itu jelas sekali. Perebuatan kekuasaan ini sudah tiga tahun berjalan. Pemerintah tidak bisa melaksanakan program kerjanya. Bagaimana ekonomi bisa berjalan dan masyarakat bisa makmur? Setiap ada konflik perebuatan kekuasaan, pemerintah tidak bisa berkonsentrasi membangun. Anggaran juga tidak disediakan untuk pembangunan. Anggaran yang dipakai hanya “duodecimo” sesuai regulasi.

GB: Sabar. Anggaran “duodecimo” maksudnya apa?

KZ: Maksudnya, pemerintah melakukan pengeluaran hanya untuk biaya tetap, gaji-gaji, dan biaya listrik, yang semuanya dihitung dari pengalaman sesuai tahun sebelumnya, tidak termasuk anggaran untuk melaksanakan pembangunan.

GB: Oh, ya, paham. Sialakan lanjutkan, dampaknya?

KZ: Bayangkan selama 3 tahun tidak ada eksekusi program pemerintah. Pembangunan apa yang akan terjadi untuk itu.

GB: Sepertinya ada korelasi dengan pernyataan Anda sebelumnya bahwa masyarakat sudah memilih diam dan apatis, jadi perebutan kekuasaan ini bisa berjalan terus dari waktu ke waktu. Apa pendapat Anda?

KZ: Jangan salah tentang maksud saya. Krisis politik akan menimbulkan krisis ekonomi, dan jika krisis ekonomi ini berkepanjangan, maka krisis ekonomi itu yang bisa menimbulkan krisis politik baru. Jadi, krisis-krisis seperti perebuatan kekuasaan di parlemen kemarin, sikap Presiden Republik yang tidak menanggapi koalisi sebelumnya yang dibentuk oleh Partai CNRT, tetapi langsung menanggapi koalisi baru yang dibentuk oleh Fretilin, PLP dan Khunto, semuanya memang membuat rakyat memilih diam, karena rakyat sudah belajar dari pengalaman, tetapi tidak demikian jika sudah terjadi krisis ekonomi berkepanjangan.

GB: Anda menyebut soal perebuatan kekuasaan di parlemen kemarin, dalam tanda kutip, apakah itu adalah suatu perebutan kekuasaan sungguhan?

KZ: Kejadian kemarin di Parlemen adalah sebuah konspirasi besar. Saya menilai sidang kemarin tidak sesuai prosedur yang berlaku. Itu suatu sidang yang kehilangan kehormatannya di mata rakyat dan dunia. Bagaimana sebuah sidang pergantian pemimpin parlemen berjalan tanpa ada persiapan yang baik, agenda sidang yang jelas, ribut-ribut dan tanpa suatu susunan acara sebagaimana biasanya terus hasilnya menggantikan seorang Ketua Parlemen. Apakah pergantian harus tidak prosedural seperti itu?

GB: Saya tertarik, Anda mengatakan konspirasi, malah konpirasi besar. Bagaimana sampai bisa menilai seperti itu?

KZ: Ya, kita lihat kejadian-kejadian sebelumnya. Anggaran pemerintah ditolak oleh parlemen, Perdana Menteri sudah mengundurkan diri, partai-partai sudah menghadap Presiden Republik, Presiden sudah meminta supaya partai-partai yang ada membentuk koalisi dan Perdana Menteri tetap menjabat hingga adanya koalisi baru di Parlemen, kemudian Partai CNRT dan kawan-kawannya sudah membentuk koalisi, Perdana Menteri menarik kembali pernyataan pengunduran dirinya, lalu Presden Republik tidak menanggapi koalisi yang dibentuk oleh Partai CNRT, akibatnya Parai CNRT sudah membuka jalan untuk partai lain mengadakan koalisi baru dengan menyatakan diri mundur dari koalisi yang sudah dibentuknya, maka partai lain harus membentuk dulu koalisi, menghadap ke Presiden Republik, mendapatkan persetujuan dahulu baru datang menyelenggarakan sidang parlemen lalu memilih susunan Ketua Parlemen yang baru. Semuanya itu tidak dilakukan, Partai Fretilin, PLP, dan Khunto sudah membentuk sendiri koalisi baru, tanpa menghadap ke Presiden sudah melakukan pergantian Ketua Parlemen, dan apa yang tidak prosedural ini langsung ditanggapi oleh Presiden Republik  bahwa itu sudah sah, Presiden Republik langsung mengeluarkan Dekrit Presiden. Itulah mengapa saya menilainya sebagai suatu konspirasi politik. Memang, saya sadar bahwa konspirasi politik itu hal yang wajar, hanya saja bagi saya sebagai masyarakat dan masyarakat pada umumnya, cara-caranya itu yang sangat tidak wajar.

Baca Juga:  Obat Penyakit Virus Korona-19

GB: Okey-lah. Anda mengatakan seperti itu, tidak sesuai prosedur, pertanyaannya, apa langkah terbaik selanjutnya ke depan?

KZ: Ya, jika maunya seperti itu, sebaiknya Presiden Republik mengambil langkah, memberikan keterangan pers tentang alasan mengapa dirinya tidak mau menanggapi pengunduran diri Perdana Menteri Taur Mata Ruak dan koalisi di bawah Partai CNRT? Hal ini supaya selesai sudah persoalan ini ke depan, karena ini akan terus menjadi pertanyaan bagi masyarakat. Kita tidak ingin hal seperti ini menjadi preseden buruk bagi generasi mendatang.

GB: Ya, itu langkah bagi Presiden Republik. Bagaimana sebaiknya langkah bagi Partai CNRT?

KZ: Saya menilai langkah yang diambil Partai CNRT untuk membawa hal ini ke pengadilan sudah tepat. Memang hanya itu yang bisa dilakukan.

GB: Apakah Anda yakin bahwa Pengadilan akan memenangkan gugatan Partai CNRT dan koalisinya?

KZ: Oh, saya pesimis. Sepertinya sulit karena ada satu dan lain hal (KZ kemudian menjelaskan dengan mengatakan penjelasannya off the record).

GB: Baik. Pertanyaan terakhir buat Anda. Apa pendapat Anda tentang Pak Xanana. Persoalan ini bisa selesai dan tidak tergantung sikap Pak Xanana juga tentunya.

KZ:  Pendapat saya, sebaiknya Pak Xanana ikuti saja, semua telah terjadi. Pak Xanana bisa melakukan konsolidasi untuk Pemilihan di tahun 2023 nanti. Bagi saya, ini pembelajaran juga buat Pak Xanana bahwa realitas sudah berubah. Adik-adiknya yang dulu, yang menjadi adik dalam masa perjuangan, sudah bukan adik yang dulu lagi karena kepentingan politiknya sudah berbeda. Dulu berjuang tanpa gengsi, sekarang setiap orang sudah punya gengsi politiknya masing-masing.

Demikianlah wawancara eksklusif dengan Kiera Zen. Tim-Goberita.Id.

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here