MENJADI PETAHANA ITU LEBIH BERAT (Wakil Bupati Belu NTT J. T. Ose Luan Buka Banyak Hal Tentang Paket SAHABAT )

1544
J. T. Ose Luan (Foto: koleksi pribadi diambil dari FB Ose Luan).

 

Goberita.Id – Keputusan Wakil Bupati Belu, Drs. J. T. Ose Luan, yang biasa disapa Ose Luan, untuk tetap maju bersama Willybrodus Lay, S.H., di bawah bendera SAHABAT  diambil berdasarkan berbagai pertimbangan, mulai dari soal kepribadian, kesamaan pandangan, prestasi dan lain-lain. Ose Luan membuka semuanya di hadapan para tokoh dan pemuda Kelurahan Umanen Kecamatan Atambua Barat Kabupaten Belu NTT, Kamis (16/07).

Berikut penyampaian lengkap Ose Luan:

TENTANG KEHADIRANNYA

Tadi, di Sarabau, saya bilang kepada masyarakat, saya tidak akan bicara politik, karna hadir sebagai Wakil Bupati. Malam ini, Ose Seran (kader DPC Partai Demokrat Kabupaten Belu) telepon saya dan undang saya sebagai bakal calon Wakil Bupati, maka saya akan berbicara sedikit di sini tentang hal itu.

TENTANG MENJADI SAHABAT

Pemasangan baliho sudah dilakukan untuk menganulir rumor tentang SAHABAT telah pecah. Dalam perjalanan di bagian akhir SAHABAT memang ada prosesnya. Baik proses untuk memisahkan SAHABAT maupun untuk bersama SAHABAT. Saya didekati oleh beberapa figur, termasuk Pak Gubernur meminta saya untuk menjadi calon bupati. Namun, saya tidak jawab. Kenapa saya tidak jawab, karena memberikan jawaban politik kepada orang-orang politik itu mengandung banyak konsekuensi. Saya juga diminta oleh calon lain yang sudah ada dan sementara bersosialisasi untuk menjadi wakilnya. Saya juga diajak oleh Pak Willy untuk tetap bersamanya. Saya jawab Willy Lay, SAHABAT sementara berjalan, kita baku tanya untuk apa?

Bapak-ibu sekalian. Saya dan Willy Lay sudah berjalan empat tahun. Bapak-ibu tahu baik dan buruknya. Kami berbuat yang baik di mana, masih belum berbuat di mana, bapak-ibu semua tahu. Saya tidak berbicara, kami ini orang-orang hebat dan sukses. Tetapi, saya berbicara, kami adalah orang-orang sederhana dan rendah hati. Willy Lay itu seorang yang punya, tetapi penampilannya seperti orang yang tidak punya apa-apa. Itu yang justru menjadi titik penilaian saya, karena dia serupa dengan saya dari awal. Dia bisa merangkul siapa saja. Pemimpin yang rendah hati itu yang dibutuhkan masyarakat. Walaupun kami ada perbedaan di lain hal, dia orang yang punya, saya orang yang tidak punya, dia rambut hitam saya rambut putih. Dengan demikian, SAHABAT sudah pasti maju, bisa berhadapan dengan satu, dua, bahkan empat pasangan. Jika “Viva Mateke (bakal calon independen)” lolos verifikasi faktual dan “Belu Memanggil” lolos, berarti ada empat. Tetapi, mau lolos atau tidaknya itu buat nee mahuak (hal yang berat). Saya tidak urus hal lolos atau tidak itu. Saya kalau lolos akan maju terus, tidak lolos hau kanawa (saya berhenti).” Prosesnya itu (lolos atau tidak) masih berjalan.

Banyak orang berharap agar kami dua berpisah, saya harus berpisah dengan Willy Lay. Tetapi, saya berusaha membalikkan keadaan itu, karena orang dikatakan sahabat itu dalam untung dan malang, senang dan susah, entah berhasil atau tidak harus selalu bersama-sama. Saya ingin katakan prinsip saya. Kita melangkah bersama, kita akan melangkah terus, tidak ada langkah mundur, kecuali terhenti bisa terjadi, artinya jikalau kita kalah maka kita berhenti, kalau kita menang kita akan melangkah terus.

Baca Juga:  Diancam Akan Dilaporkan Ke Polisi, Begini Respon Marcos Tatto

Memang, menjadi petahana itu lebih berat dari sebelumnya, karena orang hanya melihat yang kurangnya, yang lebih orang tidak pernah komentari. Saya datang di SDK II Atambua, saya memberikan soal kepada anak SD Kelas V. Saya tulis soal, dan soal nomor 3 saya kasih salah. Kemudian, saya bertanya,coba lihat soal itu, “Mana yang menurut kamu benar dan mana yang salah”. Semua menjawab bahwa “Nomor tiga salah. Tidak ada yang mengatakan nomor satu, dua, empat dan seterusnya itu benar, yang salah nomor tiga.” Itulah contoh beratnya petahana.

Satu hal lagi bapak-ibu sekalian. Saya ingin maju lagi karena kerjanya nanti hanya akan 2,5 tahun. Jika kami tidak terpilih, maka pejabat baru harus melaksanakan program kami tahun 2021 karena rencananya tahun 2020 masih periode kami. Baru tahun 2022 mau melaksanakan programnya lalu Pemilu lagi 2024, waktunya sangat kurang. Kami yang sudah empat tahun saja masih belum bisa berbuat semua yang direncanakan, apalagi hanya 2,5 tahun, maka lebih baik SAHABAT lanjutkan saja apa yang sudah ada.

TENTANG APA YANG TELAH DIRENCANAKAN DAN DILAKSANAKAN

Bapak-ibu sekalian. Proses berpemerintahan itu dilaksanakan dari bawah sampai ke atas. Semua yang direncanakan itu yang akan dilakukan untuk kebutuhan masyarakat. Ada orang mengritik tentang pagelaran seni-bidaya Fulan Fehan, festival Likurai, yang hasilnya sampai Tarian Likurai ikut tampil di pembukaan Sea Games, upacara Hari kemerdekaan di Istana Negara, dan lain-lain. Orang berpikir setelah pagelaran dibuat lalu selesai. Padahal, itu adalah suatu kegiatan yang dibuat untuk kembali membuka hati dan pikiran kita bahwa kita punya nilai. Nilai tradisi yang cukup kuat. Saya selalu katakan kepada orang luar, kepada ISI Solo, dari segi gerakan tari dibandingkan Jawa, Bali, dan lain-lain mungkin kami punya ini yang paling sederhana, tetapi dari segi lain, orang menabuh sambil menari meliuk-liuk itu hanya ada di kami. Oleh karena itulah Likurai sampai pentas ke Jepang, dan rencananya ke 14 negara lagi di Eropa dan Australia tetapi batal karena wabah Korona.

Tahun ini, kita sebenarnya sudah akan menyelesaikan jalan-jalan penghubung dalam kota semuanya, tetapi dananya dialihkan untuk penanganan Covid. Jalan, kita tidak kerja Lapen, tetapi semuanya Hotmix, karena Lapen akan membuat kita kerja berulang kali. Jalan dari Weluli ke Fulur itu, dari jaman saya kerja, jaman nenek-moyang saya tidak pernah jadi-jadi karena orang tambal-sulam dan tambal-sulam saja. Banyak pengusaha kaya karena main tambal-sulam tambal-sulam itu, tetapi kita satu kali Hotmix, supaya pekerjaan jadi dan selesai. Demikian juga ke Laktutus, satu kali Hotmix dan selesai. Jalan Sabuk Merah Perbatasan sudah keliling sampai ke Lamanen Selatan. Kita sudah membangun lagi jalan-jalan penyambungnya atau jalan arterinya.

Hal listrik. Ketika kami dilantik, ada puluhan desa yang belum teraliri listrik. Pada tahun 2017, saya meresmikan pembangunan listrik di Desa Duakoran, Raimanuk, pada waktu itu termasuk ibu kota Kecamatan Raimanuk sendiri belum ada listrik. Sekarang ini, seluruh desa di Kabupaten Belu sudah nyala, sisa beberapa dusun saja, dan sekarang sedang didata, semuanya harus menyala, Indonesia harus terang.

Baca Juga:  Diberitakan Sebut Masyarakat Curi Porang, Plt. Sekda Belu Minta Maaf

Dalam penyelenggaraan pelaporan keuangan, kita WTP dua kali. Tidak sembarang orang bisa mencapai hal seperti itu. Walaupun dikatakan itu bukan suatu prestasi, tetapi kewajiban, maka memenuhi kewajiban itu artinya sukses, prestasi. Prestasi karena Kabupaten lain berulang tahun dengan tidak WTP, kita berulang tahun dengan WTP. Saya menjadi pengawai (PNS) selama 35 tahun. Dalam perjalanan saya sebagai PNS, baru sampai di kami ini ada WTP. Kita kerja mengikuti aturan, makanya bisa WTP. WTP itu artinya kami menyelesaikan permasalahan-permasahan kemarin, bukan masalah kami. Jadi, kami dua ini banyak menyelesaikan permasalahan-permasalahan kemarin. Kami dilantik 2016, 2017 WDP, 2018 WTP, 2019 WTP, dan semoga 2020 yang akan diumumkan 2021, kami masih ada untuk WTP lebih lanjut. WTP artinya kami ini taat aturan. Mental taat aturan ini yang harus dijaga.

Dalam lomba inovasi Covid-19 kita berhasil mendapat juara dua, menerima DID (Dana Insentif Daerah) dua miliar. Ini juga suatu prestasi untuk menambah pundi-pundi APBD kita.

Ada ketidakpuasan-ketidakpuasan adalah bagian dari proses. Saya berterima kasih kepada mereka yang memberikan kritik. Mereka kritik jalan dalam kota katanya abu-abu, setelah dibangun diam. Plaza Perizinan kita terbaik se-NTT, dipuji oleh pemerintah pusat, orang datang dan belajar dari kita. Pada saat dibangun, semua orang kritik, tetapi sekarang tidak ada lagi. Orang kritik Maekbako (budidaya porang). Suatu program yang sampai masyarakat tergerak tanam sendiri itu berhasil. Sebelumnya, pembangunan Patung juga dikritik banyak, tetapi sudah selesai dan diam. Sekarang, kita lanjutkan karena pengunjungnya banyak. Kita membangun pariwisata, misalnya budaya tradisional seperti kain Tais dan tarian Likurai, harus ada konektivitas, ada link. Kita tidak bisa mengatakan saat ini kita bangun, saat ini bisa langsung dipetik, seperti tanam jagung atau padi. Jika kita mau mengangkat dan memperkenalkan sesuatu itu dengan menjual melalui berbagai cara. Itu adalah pembagunan wisata budaya yang konek dengan religi, yang memang harus kita bangun. Kami membangun bukan untuk mencari nama dan lain-lain.

Air minum, orang kritik tentang air minum, tetapi orang lupa, bahwa daerah kita adalah daerah kering. Tuhan menjadikan pulau Timor ini dengan curah hujan 3—4 bulan per tahun, tidak menentu, tetapi kekeringan sudah tentu setiap tahun. Jadi keringnya pasti, hujannya yang tidak pasti. Dalam kondisi seperti ini, kami sudah bekerja, medatangkan air dari Weutu, dari Molosoan. Dan, pekerjaan satu yang paling besar dan akan menguntungkan anak-cucu ke depan, itu adalah Welikis. Sebuah bendungan dengan tampungan air yang begitu besar, 10x lipat dari bendungan Rotiklot. Tidak gampang itu. Di NTT ini ada tujuh bendungan, dua di Belu. Pada saat pembangunan bendungan Kolhua untuk Kota Kupang batal, kita masuk, kita lobby. Pak Willy itu hobby lobby, orangnya hebat untuk itu. Makanya tahun ini pembangunan bendungan Weilikis sudah tender perencanaan, artinya sudah pasti jadi. Dan, jika itu jadi, Atambua tidak akan lagi mengeluhkan soal air. Tetapi kami tidak pernah koar-koar bilang sudah buat ini dan itu. Dalam Kitab Pejarjian Lama diceritakan, Musa mengambil tongkat memukul batu dan keluar air. Di jaman kita sekarang ini, tidak ada Musa. Kita semua manusia biasa.

Baca Juga:  574 Babi di Belu NTT terserang Virus Afrika

TENTANG FILOSOFI SAHABAT

Saya selalu menghimbau kepada para SAHABAT untuk memandang orang-orang yang datang sebagai sahabat. Sahabat dalam berkompetisi, berlomba, bukan musuh. Walaupun tidak bergabung dalam SAHABAT, mereka adalah sahabat karena SAHABAT itu termasuk lawan.

Saat sekarang ini, orang berkoar-koar tentang kesehatan gratis. Kesehatan gratis itu sudah diberikan melalui BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Saat ini, ketika saya berdiri di sini, kita tidak bisa mengatakan kesehatan gratis menggunakan KTP. Tidak ada aturannya seperti itu, karena itu di luar aturan. Dan, mereka-mereka yang berbuat seperti itu sudah ditegur berulang-ulang, dan bisa berbahaya. Kita (SAHABAT) tidak boleh buat begitu. Kita memilih BPJS karena tiap tahun itu iuran kepada orang tidak mampu terus bertambah. Tadi pagi, saya terima surat dari Kemeterian Sosial, mengatakan pada tahun ini, pusat akan menambah lagi jaminan pengobatan gratis bagi 15 ribu orang, berarti kita punya yang tahun ini masih ada 18 ribu masyarakat yang belum memiliki Kartus KIS, BPJS, dan Jamkesda, hanya akan tinggal tiga ribu, maka nanti 2021 semua masyarakat (yang tidak mampu) sudah bisa gratis.

Kita (SAHABAT) bicara gratis berdasarkan aturan, bukan bicara gratis berdasarkan pertimbangan politik, tidak! Gratis sesuai aturan, bukan di luar aturan, karena gratis di luar aturan berarti kita bisa kena penalti.

Orang mengatakan perubahan, kita sudah melakukan perubahan. Rakyat yang akan menilai. Menjadi pemimpin itu jangan karena ingin berkuasa, tetapi untuk mengabdi dan melayani. Saya dalam posisi jabatan apa saja selalu mensyukuri jabatan itu sebagai perkenanan Tuhan menambah talenta pengabdian saya, bukan kekuasaan. Menurut saya, Injil, Alquran, dan lain-lain mengatakan hal yang sama, pemimpin itu berasal dari Tuhan. Bagi yang Kristen, silakan buka di Korintus, tidak ada pemimpin yang tidak datang dari Allah. Dalam demokrasi datang melalui rakyat kepada saya dan Willy Lay.

Saya sebenarnya lebih suka menjadi camat atau Sekda. Di sana pengabdiannya. Menjadi bupati dan wakil bupati itu jabatan politik. Ternyata, jabatan politik itu terkait erat dengan kepentingan. Tetapi kita harus jalani karena menjadi pemimpin politik harus melalui prosedur itu. Menjadi pemimpin untuk memuaskan semua orang, itu tidak mungkin, nonsense. Kita hanya bisa menghadirkan berbagai kegiatan untuk banyak orang. Bendungan itu untuk banyak orang, religi itu untuk semua umatnya, pariwisata, kain tenun tradisional, tarian Likurai itu semua untuk banyak orang.

TENTANG AJAKAN KEPADA MASYARAKAT

Jadi, bapak-ibu semua, saya mengajak bapak-ibu sekalian memilih SAHABAT. tetapi, saya belum ajak, bapak-ibu sudah ajak saya duluan, jadi tanggung jawab. Saya kasih tahu kepada masyarakat di Fatubenao, saya pernah menokohkan diri saya? Apa saya bisa menokohkan diri saya? Kalian yang menokohkan saya, kalian tanggung jawab tentang itu. Karena kalian menokohkan saya sehingga orang datang melamar saya. Saya sendiri tidak pernah melamar orang bapak-ibu sekalian. Terima kasih bapak-ibu karena telah mengundang saya.  (Tim Goberita.Id)

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

Comments

comments