Maek Bako Komoditi Pertanian Menjanjikan, Bupati Lay Ajak Petani Focus Menanam

0
511
Bupati Belu/ Willybrodus Lay. Sebelum ditetapkan sebagai Paslon Pilkada dan mengambil Cuti Kampanye.

Goberita.id. Tanaman Porang atau yang dikenal di Belu dengan nama Maek Bako menjadi tanaman yang semakin diminati para petani untuk dibudidayakan dan dikembangkan. Maek adalah komoditi pertanian baru yang diperkenalkan Bupati dan Wakil Bupati Belu ( Willybrodus Lay dan J.T Ose Luan) sejak masih menjadi Paslon Pilkada dengan nama paket Sahabat pada kampanye Pilkada tahun 2015. Ketika dilantik pada tahun 2016 Pemerintahan Sahabat (Willy dan Ose) lalu menterjemahkan Misi pertanian yaitu maek tersebut melalui intansi teknis/ Dinas Pertanian dan Ketahananan Pangan Kabupaten Belu dengan mengalokasikan APBD pada program tersebut. Maek yang awalnya diragukan dan dikritisi akan gagal ternyata berbanding terbalik. Geliat dan minat masyarakat petani membudidayakan tanaman liar ini semakin tinggi.

Pada saat kunjungan kerja Bupati Belu , Willybrodus Lay, di Desa Fohoeka, Nanaenoe, Duabesi dan Nanaet (12,13/08/2020) terpantau antusiasme masyarakat petani sanggat tinggi ketika berbiacara terkait maek dan prospeknya. Bupati lay sebagai pemerintah daerah yang sejak kampanye 2015 memperkenalkan potensi maek ini pada saat dikantor Desa Fohoeka (12/08/2020) menjelaskan lagi terkait Prospek Maek Bako untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Berikut penjelasan Willy Lay:

Prospek Maek dengan harga saat ini

“ Berkaitan dengan potensi pertanian terkhusus Maek bako (porang) kalau kita menanam 1 hektar dengan jarak tanam ½ meter maka kurang lebih ada 20 ribu pohon. Maek ini kalau sudah besar nanti di musim hujan biji bungannya akan jatuh ke tanah dan akan hidup lagi. Terus kalau kita panen umbinya harus beratnya sudah cukup atau 1 kilo keatas kalau belum kita tanam kembali. Sekarang coba berhitung 1 hektar ada 20 ribu pohon, 1 umbi menghasilkan minimal 1 Kilo. Kalau kita timbang mentah dengan harga 3500/kilo maka bisa didapat Rp. 70.000.000. lalu kelebihan Maek bako satu kali kita tanam bisa panen berkali kali karena selain umbu yang sudah siap dipanen kita jual, ada banyak umbi kecil lain yang nanti tumbuh lagi, lalu bijinya yang dari dahan akan jatuh dan tumbuh lagi.”

Baca Juga:  Hentikan Pekerjaan Jalan Raya Oleh Warga Fatubenao, Begini Penjelasan Kadis PUPR Belu

Perbandingan dengan Produksi Padi

“ Saya buat perbandingan dengan tanaman padi. Menurut data dari dinas 1 hektar sawah bisa menghasilkan 3,6 ton padi. Dari 3,6 ton padi tersebut kalau kita kalikan dengan harga gabah kurang lebih Rp. 4000 maka akan menghasilkan Rp. 14.400.000. , tidak sampai 20 juta kan. Padahal biaya pengolahan sawah lebih memakan biaya, mulai pengolahan lahan, sewa traktor, membeli pupuk, perawatan sampai dengan panen hasil kita mengeluarkan banyak biaya produksi. Belum lagi kemungkinan gagal tanam atau gagal panen. Jadi maek bako adalah satu potensi perekonomian yang luar biasa. Kalau ada yang kritik bilang kenapa masyarakat diajarkan tanaman liar dan gatal, biarkan saja mereka omong kita konsentrasi dihasilnya. Tahun lalu saya dengar di dubesi sudah ada yang panen hasilkan 14 jutaan. Untuk hasil yang baik kalau boleh tanahnya diolah sehingga umbinya bisa lebih besar dan berkembang lebih cepat. Jadi kalau bisa pemerintah Desa mulai focus untuk mengurus maek bako melalui ADD. Selain itu juga tetap menanam produk pertanian unggulan lainnya. Contoh di Fohoeka Ubi kayu dan ubi jalarnya juga cukup baik hasilnya.”

Dari testimoni langsung, seperti yang disampaiakan adrianus hale dari Fohoeka, 80% petani sudah menanam maek dilahannya. Sedangkan di Duabesi petani malah sudah membeli motor cash dari hasil penjualan Maek di lahannya. Selain Maek pada saat di desa Nanaenoe, Bupati Lay juga menjelaskan terkait jagung dan cara mengembangkan. Lay mengatakan bahwa dirinya akan membantu Pemerintah Desa Nanaenoe dengan suntikan dana sebesar Rp.50.000.000 untuk program padat karya terkhusus pengembangan jagung. YP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here