Polemik Excavator dan Willy Lay di Pusaran Pilkada Belu 2020 ( Wawancara Eksklusif)

0
1137
Willybrodus Lay/Bupati Belu.

Goberita.id. Akhir-akhir ini polemik Excavator mencuat ke publik sebagai sebuah isue yang mengundang kontroversi. Hasil pantauan Media, Polemik ini bermula pada tanggal 1 september 2020, Akun Jonas Beremau memposting di Grup diskusi Facebook dan mengatakan bahwa dirinya mendapat kiriman dari seseorang Foto Excavator dan dokumen Hibah. Pada saat itu juga Akun Theo Aty dan Yos Mau turut membagikan sehingga mulai mengundang Reaksi Netizen. Baik akun asli dan Palsu berkomentar dengan sinis dan menyerang Bupati Belu dan Willy Lay secara Pribadi dengan kata dan kalimat yang kasar. Willy Lay dituding menggelapkan Excavator tersebut, dicaci rakus dan cercaan lainnya. Lanjutannya, pada beberapa jam kemudian setelah Postingan Jonas Beremau, Akun Helio Caetanu Moniz memberikan tanggapan atau Klarifikasi yang isinya menyebutkan bahwa Excavator tersebut adalah bantuan Kementrian dan diserahkan untuk Paroki untuk membantu hanya karena rusak dan mahalnya biaya pemeliharaan maka sementara waktu tidak digunakan. Nama Almarhum Romo Maxi Alo Bria juga termuat dalam dokumen serah terimah Exca tersebut. Diskusi di Media semakin panas.

Karena tidak puas maka tanggal 3/09 Romo Yoris bersama beberapa pengurus DPP Paroki Atapupu datang menemui komisi II DPRD Belu. Romo menyampaikan tuntutannya secara tegas kepada Pemda Belu. Beberapa media memberitakan hasil pertemuan Antara Romo Yoris, Umat Atapupu dan DPRD. Diskusi semakin liar dan tak terhitung Postingan serta komentar yang memojokan Willy Lay selaku Bupati. Beberapa Akun palsu malah menyerang Privasi WL dan keluarganya. WL disebutkan punya niat mengambil exca menjadi hak milik pribadi bahkan sampai mencaci-maki.

Jumat (04/09) siang, awak media menemui Willy Lay di Rumah Jabatan setelah Pulang Kantor. Ketika dikonfirmasi soal hal ini WL enggan menjawab, dirinya tidak ingin berkomentar karena menurutnya tidak etis disampaikan. Pasalnya, Menurut WL Gereja Katolik selain memiliki hubungan yang baik dan khusus dengan keluarganya juga adalah mitra yang sangat membantunya dalam memimpin Belu. Namun karena awak media menjelaskan bahwa ini demi memberikan kejelasan kepada Publik, demi menjaga Harmonisasi hubungan dengan Gereja yang selama ini telah terbangun serta Kewibawaan Pemerintah maka dengan berat hati WL mulai bicara. Berikut Penuturan Willy Lay secara lengkap. (Goberita: GB, Willy Lay : WL).

GB: Bagaimana Tanggapan Pa Bupati terkait isu Excavator yang berapa hari ini jadi isu Publik

Baca Juga:  Manehitu: DPRD Belu NTT Tidak Dilibatkan Dalam Rasionalisasi Anggaran 13 Miliar

WL: bukan saya tidak mau tanggapi tapi Saya khawatir, klarifikasi atau penjelasan terkait polemik pengelolaan termasuk informasi ini jadi liar beredar apalagi ini masa Politik. Sebenarnya tidak seperti yang di isukan atau di jadikan bahan menuding saya apalagi katanya saya menggelapkan Exca Kementrian, itu sama sekali tidak benar.

GB: iya, yang kami pantau di Media sosial akun-akun tertentu menyebutkan demikian

WL: Romo Maxi yang saat itu menjabat Pastor Paroki dan mengetahui persis bagaimana proses bantuan excavator itu diserahkan hingga dimanfaatkan namun Rm. Maxi sudah ‘tiada’ (almarhum). Saya tidak pernah ambil ini barang untuk saya, ini kita mau omong, Rm. Maxi almarhum sudah tidak ada. Kalau Rm. Maxi masih ada pasti tidak begini.

GB: Mungkin bapak bisa gambarkan atau ceritakan sedikit soal Excavator tersebut.

WL: itu waktu tahun 2016 lalu,
Setelah hampir setahun jabat sebagai Bupati saat itu ada kunjungan salah satu Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan ke Kabupaten Belu. Dalam kunjungan itu, Dirjen melihat tambak warga tidak begitu dalam. Hal itu terjadi karena keterbatasan peralatan. Lalu Dirjen bilang kalau butuh, ada excavator bantuan kementarian yang belum didistribusikan. Tapi perlu ada proposal untuk dapatkan hibah tersebut. Dalam perjalanan pengurusan administrasi, ada perubahan nomenklatur dan regulasi dimana tidak diperbolehkan adanya hibah oleh Pempus kepada Pemda. Hibah hanya diperbolehkan kepada kelompok masyarakat.

GB: o iya, Bagaimana Exca ini sampai ada hubungan dengan paroki Atapupu?

WL: ceritanya begini, saya lihat pentingnya excavator itu bagi masyarakat kita lalu saya ambil inisiatif untuk sampaikan ke Almarhum Romo Maxi Alo Bria untuk bentuk kelompok masyarakat, sehingga bisa dapatkan bantuan hibah excavator itu. Saat itu Romo Maxi bilang aduh ini Pak Bupati, ini gereja tidak bisa urus. Tapi saya bilang, tidak, maksudnya Romo tanda tangan saja dokumennya, nanti kalau gereja mau pakai juga boleh masyarakat mau pakai juga boleh. Tapi kalau di kelompok, nanti akan dikuasai oleh kelompok itu saja, tapi kalau di gereja itu kan universal, milik semua, termasuk umat lain dan masyarakat kelompok lain juga boleh pinjam. Romo menyetujui inisiatif itu kemudian membentuk kelompok Paroki Stella Maris Atapupu bersama beberapa masyarakat setempat. Jadi saya dengan Romo Maxi sepakat untuk Romo bantu administrasi tapi bisa dipakai oleh seluruh warga Belu.

Baca Juga:  Sampaikan Pandangan Umum Fraksi, Golkar Belu NTT Kritisi Pemerintah Terkait Kinerja OPD

GB: setelah itu dimana Saja exca tersebut digunakan?

WL: setelah kita terima excavator itu, begitu banyak permintaan untuk dimanfaatkan. Diantaranya penggalian sumur resapan Ainiba, pengerukan sejumlah tambak di Kolam Susuk, pembuatan tambak di SMK Perikanan Atapupu, kolam ikan dan gali sumur di kimbana, pelebaran lapangan Paroki Halilulik, pembuatan teras di kantor Camat Tasbar, pembuatan tambak ikan di Haekesak, pembuatan sumur di Asuulun, pembuatan penampungan air di Raiiukun dan pembuatan embung di Lelowai. Selain itu digunakan untuk menggali fondasi gereja Paroki Nela.

GB: apa ada kendala selama Exca dioperasikan

WL: Saat exca ini berpindah-pindah digunakan saya tidak tahu, tapin saat ecxavator ini operasi, ada yang bantu solar, ada yang tidak bantu solar, saya minta maaf secara pribadi saya bantu. Excavator ini yang pasti kan butuh maintenance seperti maaf ganti oli, ganti kuku, alat lain yang rusak itu saya keluarkan uang saya pribadi. Biasanya saya dikasih tahu saat butuh biaya operasional atau ada alat yang rusak.

GB: Wah Exca kan butuh biaya mobilisasi juga kan Pa Bupati

WL: Selama ini biasanya excavator ini simpan di PU. Tapi setiap kali mobilisasi keluar ini kan butuh biaya, butuh pengawalan. Saya bantu dan pakai uang pribadi. Mobilisasi itu bukan untuk saya, tapi dipakai kerja untuk kebutuhan warga atau umat. Selama ini excavator simpan di mana saya tidak tau, saya hanya dikasi tau mau mobilisasi ke lokasi ini, butuh biaya mobilisasi saya bantu.

GB: Kapan terakhir kali Pa Bupati dikasih tahu soal Exca tersebut?

WL: Terakhir kerja di Nenuk barang ini rusak, lalu mereka sampaikan ke saya, saya suruh mekanik datang lihat, mekanik datang lihat, mekanik saran ke saya, kita muat bawa ke kita punya bengkel supaya ada waktu kami bisa bongkar liat apa yang rusak. Setelah bongkar lihat yang rusak arm boomnya, katanya harganya kurang lebih 34-35 juta. Saya bilang jangan bongkar lagi dulu, saya cari uang, dapat uang dulu baru perbaiki.

GB: isu yang dimainkan pihak tertentu, katanya Exca tersebut mau digelapkan

WL : Tidak apa, silahkan mereka omong, Barang besar begini saya mau gelapkan bagaimana? Minta maaf ya, sebenarnya saya tidak perlu omonng, barang ini butuh perawatan, dan perawatan selama ini saya rela keluarkan uang saya pribadi. Padahal saya tidak pernah pakai.
Kalau saya pakai pribadi, boleh dikatakan saya gelapkan, tapi ini untuk seluruh umat masyarakat Kabupaten Belu.

Baca Juga:  ANSY LEMA LAPORKAN HASIL KINERJA SATU TAHUN SEBAGAI WAKIL RAKYAT NTT DI SENAYAN

GB: Pa, baru-baru Pastor Paroki Atapupu, Romo Yoris, datang ke DPRD Belu untuk menanyakan Exa tersebut.

WL: iya saya dengar begitu, tapi Waktu Rusak di SVD Nenuk saya sudah telpon Romo Yoris saya sampaikan bahwa Exca Rusak, romo Yoris saya kenal dan romo kenal saya. Terkait ke DPR tidak apa, hanya saya mau tegaskan bahwa Exa itu tidak hanya untuk Umat Atapupu tapi seluruh Masyarakat Belu, makanya soal bagaimana sejarah exca ini almarhum Romo Maxi dan Yun Koi Asa PDAM yang tahu persis.

GB: O iya Maaf, Bagaimana Exca tersebut bisa berada di AMP?

WL: Exca itu setelah rusak, saya panggil operator untuk pergi lihat exca tersebut supaya diperbaiki. setelah dilihat mekanik sarankan agar excavator tersebut dievakuasi dulu ke gudang terdekat karena mekanik belum berkesempatan untuk membongkar, sehingga exca tersebut dibawa ke gudang terdekat yakni di AMP milik PT.DNL yang kebetulan dekat dengan dengan lokasi dimana exca tersebut rusak.

GB: Yang terakhir Pa Bupati, apa yang akan dilakukan kedepan terkait Exca tersebut?

WL: Jadi karena belum ada uang, excavator itu masih simpan di AMP sampai hari ini. Kalau saya ada uang, dan sudah perbaiki, mungkin sudah tidak simpan lagi di AMP. Waktu itu Bisa saja simpan dan bongkar di tempat SVD saat rusak, tapi kan takut tidak ada yang jaga dan ada alat lain yang hilang ya bawa ke AMP biar aman. Jadi intinya setelah saya perbaiki nanti silahkan dipergunakan kembali.

Demikian Wawancara Awak Media dengan Bupati Belu, Willybrodus Lay. Selain bertutur tentang polemik Exca tersebut, WL mengajak semua Komponen masyarakat dan Lembaga mitra Pemerintah agar menggunakan pendekatan Dialog dan kekeluargaan untuk mencari Solusi pada setiap masalah sebab di masa Politik seperti ini banyak suka bermain di air keruh untuk mengadu domba Umat dan Umat atau Umat dan Gembalanya.(YP/FT/MP/MM).

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here