Diduga Tanpa Koordinasi dan Merusak Tanah Ulayat Serta Kawasan Wisata, proyek Pengeboran Air di Padang Fulan Fehan Dihentikan

606
Proyek Pengeboran Air di Kawasan Adat dan Wisata Fulan Fehan.

Goberita.id. Pelaksanaan Proyek Pengeboran air di padang Wisata Fulan Fehan dihentikan oleh Nai Adat Dirun, Alfons Bere Mali, Proyek di tempat sakral dan bersejarah tersebut tidak melalui suatu pembahasan dan persetujuan bersama 37 suku dalam lembaga Kenaian Dirun yang memiliki lahan yang dijadikan titik pengeboran tersebut. Atas hal tersebut, proyek tersebut wajib dihentikan dan pindah Lokasi. Selain itu Pelaksana Kontraktor diminta untuk melaksanakan sanksi adat serta mensakralkan kembali tanah adat yang terlanjur dirusaki.

Demikian dikatakan Alfons Bere Mali melalui Telponnya ke media ini ( 05/10) hari ini. Menurut Berejeki pekerjaan tersebut tanpa sepengetahuan pemilik lahan dan tidak melalui tata cara adat setempat.

” Karena sudah merusak, jadi yang sudah terlanjur dia harus mensakralkan kembali yang sudah digali, dia harus tutup dan dipindahkan karena tidak boleh di areal itu,” tegas Bere Mali.

Bere Mali menguraikan bahwa pihaknya sama sekali tidak tahu bahwa tanah ulayatnya yaitu padang Fulan Fehan yang mereka sakralkan akan di lakukan pengeboran air.

Baca Juga:  Nol Pasien Covid, Belu Kembali Hijau

” Kami tidak tahu kalau ada proyek bor air di tanah adat kami yang kami sakralkan selama ini. Tadi saya bersama beberapa kepala suku sudah ke lokasi dan minta agar dihentikan, itu tanah adat kami dan milik 37 suku yang saya pimpin,” Ungkap Bere Mali.

Kata Bere Mali, ” Harusnya koordinasi dahulu dan sebelum dilakukan harus ada ritual adat, Harus pindah lokasi dan harus ada sanksi adat. Karena sudah terlanjur maka dia harus mensakralkan kembali, dia harus tutup kembali yang sudah digali dan pindah karena tidak boleh di areal itu.

Sementara itu Pelaksana Kontraktor, Vinsen Saka, ketika dihubungi mengatakan bahwa benar pekerjaan di hentikan, tetapi menurutnya dirinya hanya melaksanakan proyek dan yang menentukan titik dinas pertambangan propinsi. Katanya juga survey Geolistrik sudah dilakukan tahun lalu. Berkaitan dengan sanksi adat vinsen mengatakan bahwa itu urusan dengan dinas Pertambangan Propinsi dirinya selaku kontraktor hanya sebagai pelaksana. Jadi menurut Vinsen bukan dirinya tidak mau bertemu dengan Masyarakat adat Dirun hanya saja katanya lebih baik bertemu dengan pihak dinas Pertambangan Propinsi. Dirinya bersikukuh bahwa hanya diberikan titik koordinat.

Baca Juga:  Tepis Isu NasDem Dukung Belu Memanggil, Jhon Aliuk: SK Sudah Ada Untuk SEHATI

” jadi begini, saya hanya dikasih titik saya survey kesana, saya tidak tahu ini wilayah adat ka, pemerintah punya ka, saya hanya dikasih titik saya kesana, kalau dikawasan Adat saya tidak tahu,” Jelas Vinsen.

Penggalian tanah di Lokasi pekerjaan Proyek yang diduga merusak Tanah Ulayat dan Adat 37 suku setempat.
Karena pekerjaan tersebut di Kawasan Wisata, Secara terpisah, Kadis Pariwisata Kabupaten Belu, Eddy Bere Mau mengatakan bahwa dirinya baru mengetahui setelah diberitahu warga setempat bahwa ada pekerjaan pengeboran di kawasan Wisata tersebut. Harusnya menurut Eddy, Pihak Pelaksana Kontraktor wajib berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan pemilik hak ulayat setempat.

” Saya kelokasi setempat dan mereka sedang bekerja. Mereka sudah gali tanahnya, Saya kontak pa desa dirun, mereka sempat lakukan survey tahun lalu dengan salah satu aparat desa, tapi setahu Pa desa bukan di lahan Ulayat dan kawasan Wisata tersebut, saya sempat telpon Vinsen Saka dan sampaikan ini harus koordinasi dengan pemerintah setempat dan tua-tua adat setempat, ” papar Eddy

Baca Juga:  Ketua KPU Pusat Diberhentikan DKPP

Lanjut Edy, “Kalau kontraktor harusnya profesional, ketika terima titik pekerjaan, lihat ada batu-batu orang susun tanya-tanya dulu, tapi dia (Vinsen) tetap ngotot, saya sarankan kontak PPK di kupang supaya koordinasi dengan pemerintah setempat karena padang ini banyak orang punya, ini hak ulayat orang banyak. Saya kontak Nai dirun, dia juga kaget jadi tadi pagi dia keatas dan hentikan pekerjaan dan tunggu Vinsen pelaksana kontraktor ini, hanya tunggu-tunggu Vinsen tidak keatas, dia (Vinsen) alasan kalau pergi harus dengan orang propinsi.”

Tambah Eddy, ” Tadi malam saya sempat komunikasi dengan Pa penjabat Bupati, hanya pa penjabat juga tidak tahu dan saya sempat minta supaya beliau beritahu dinas pertambangan propinsi supaya koordinasi dengan pemerintah setempat,saya kontak Kepala kehutanan dia juga tidak tahu, karena tidak semua tempat bisa masuk karena di Dirun ada Kenaian ada tempat-tempat tertentu yang pemali,” Pungkas Eddy. YP.

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

Comments

comments