Pembelajaran Jarak Jauh dan Masalahnya di Belu Kota Batas RI-RDTL ( Bersama Kadis P&K Kabupaten Belu)

0
575
Jonisius R. Mali, SH, Kadis P dan K Kabupaten Belu, diruang kerjanya.

Goberita.id. Dampak dari merebaknya pandemi global Covid-19 diseantero wilayah Indonesia sangat terasa di berbagai sektor usaha, perekonomian, aktivitas normal perkantoran dan tak terkecuali dunia pendidikan. Upaya mencegah penyebaran Covid tersebut Pemerintah mengeluarkan kebijakan Social Distancing, phsysical distancing hingga Pembatasan berskala Besar (PSBB). Masyarakat diminta Stay At Home atau bekerja, beribadah dan belajar dari rumah tanpa harus berkumpul lagi.

Di dunia pendidikan, formulasi interaksi antara guru dan siswa di masa pandemi adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi yaitu komputer dan gadget yang kita kenal dengan nama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara online atau daring. Berangkat dari pengelaman sebelumnya Sistim ini efektif menghindarkan sekolah terserang virus atau sebagai Cluster Covid. Namun pembelajaran online atau daring ini memiliki cerita tantangan yang luar biasa. Posisi Kabupaten Belu di daerah Tapal Batas NKRI dan Negara Timor Leste yang memiliki keterbatasan jangkauan layanan Internet menyebabkan kendala yang cukup terasa.

Berikut wawancara singkat Goberita (GB) bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu, NTT, Jonisius R. Mali, SH ( JM) diruang kerjanya, Senin (15/03/2021).

GB: Pak Kadis, apa dampak langsung yang terasa di lingkungan pendidikan di Belu dari pemberlakuan PJJ ini?

JM: Kita harus akui, dampak dari pandemi global Covid 19 sangat berpengaruh bagi pendidikan. Saat ini yang paling terasa adalah di tingkat sekolah Dasar terutama yang kelas 1,2 dan 3, mereka ini kan harus belajar kompetensi dasar yaitu membaca, menulis dan berhitung sesuai kurikulum K13, sistem daring bisa dibayangkan bagaimana belajar jarak jauhnya, penugasannya seperti apa bagaimana mungkin anak bisa menulis dan berhitung kalau dia tidak bisa membaca, persoalannya sudah kami temukan ada anak yang sudah sampai kelas besar seperti kelas 4,5 SD namun belum lancar membaca. Semuanya karena kompetensi dasarnya tidak kuat.”

Baca Juga:  Data Covid-19 Terbaru dan Sebarannya di Kabupaten Belu

GB: Ini persoalan cukup serius, apa yang dilakukan oleh Dinas P&K mengatasi situasi ini?

JM: Selama beberapa minggu terakhir saya sudah berkeliling ke semua sekolah dan bertemu dengan para kepala sekolah, minggu lalu saya di kecamatan Tasifeto Barat dan bertemu 37 kepala Sekolah dan ke kecamatan Lamaknen, Lamaknen Selatan bertemu 28 Kepala Sekolah, kami berdiskusi soal kendala, modul dan penugasan serta mencari solusi bersama atas persoalan teknis di lapangan.

GB: Apa ada upaya tersendiri dari Sekolah-sekolah?

JM: Sekolah-sekolah di kecamatan terluar dari kota membuat kebijakan sendiri mereka belajar bersama, menentukan titik kumpul di tempat yang mereka sepakati dengan jumlah siswa terbatas, saya aminkan saja karena memang protokolnya mereka taat dan jumlah siswanya kecil sedikit sekali soalnya di SD terluar, 1 SD hanya punya 50 sampai 60 siswa total semuanya, jadi satu kelas biasanya 5 sampai 10 siswa makanya mereka buat titik kumpul dan belajar bersama sehingga anak bisa membaca, menulis dan berhitung.

GB: Sebenarnya kendala utama PJJ online atau daring di Belu ini apa?

JM: Kita ini kan akses internet terbatas, listrik sebagian belum ada, jangan omong jauh-jauh sampai lamaknen, Masmae yang 4 kilo dari kota ini saja belum punya listrik, bagaimana internetnya, HP harus android, bagaimana kalau dalam 1 rumah ada 3 sampai 4 anak yang SD, pulsa data, ini persoalan yang rumit sekali. Yah, karena itu hasil pemantauan kami, kami setuju saja dengan kebijakan sekolah yang buat kombinasi yaitu PJJ online, Titik kumpul, guru kunjung yang penting tetap mengikuti protokol kesehatan, karena di masa Pandemi ini Kesehatan yang paling penting.

GB : Apa ada catatan untuk sekolah-sekolah , yah minimal mereka bisa kreatif menyikapi kondisi ini sehingga proses belajar bisa terus berjalan?

JM: Guru-guru harus siapkan bahan ajar, memang agak sedikit kesulitan di penggandaan, tapi bisa menggunakan dana BOS, dana BOS itu disiapkan oleh negara untuk memenuhi kebutuhan sekolah, tinggal kita rekomendasikan atau Acc apabila memenuhi syarat, yang penting sekolah itu bisa mengindentifikasi kebutuhan dengan betul, dana BOS itu relaksasi untuk penanganan covid itu sangat tinggi, bisa beli thermogan, beli masker, membeli dan gandakan bahan ajar, uang jalan untuk guru kunjung dan lain-lain sesuai kebutuhan.

Baca Juga:  DPD Demokrat NTT Jalani Test Covid-19 Usai Karantina Mandiri

GB: Yang terakhir, apa himbauan kepada orang tua siswa untuk mendukung proses belajar mengajar di masa pandemi ini?

JM: Ya, memang betul, harus ada kolaborasi yang kuat antara orang tua dan guru, lebih khusus lagi untuk anak SD kelas 1,2 dan 3, saya menjadi sangat prihatin di jenjang itu, jadi bukan saja pembinaan karakter tapi pengetahuannya, orang tua harus betul-betul aktif dampingi anak, mengatur jadwal belajar, saya sudah himbau kepada guru-guru untuk bangun komunikasi dengan orang tua. Jadi harus ada hubungan baik guru, orang tua dan murid, soalnya selama ini penugasan dari guru malah dikerjakan oleh orang tua, nilainya 100 semua tapi anak malah tidak tau membaca dan menulis. Orang tua harusnya membantu membimbing dan memotivasi anak, jangan mengerjakan semua tugas anak, sebab anak berhak bisa membaca , bayangkan kalau anak tidak bisa membaca. Selama ini saya lihat sudah berjalan, guru kunjung ke titik kumpul dan orang tua menyiapkan fasilitas atau sarana terbatas bagi kelancaran belajar mengajar.

Demikian wawancara singkat bersama JM Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu, NTT . YP.

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here