Menjadi Pemimpin Ala Yesus

289
Biarawan Katolik Keuskupan Atambua, RD. Frid Tnopo, Pr.

Oleh: RD. Frid Tnopo

Renungan Katolik Hari Minggu Biasa XXV. Minggu, 19 September 2021. (Markus, 9:30-37)

Goberita id. Menjadi pemimpin tentu menjadi idaman banyak orang. Mempunyai banyak pengikut dan terkenal. Gagasan dan ide-ide bisa diwujudkan karena punya daya pengaruh yang besar. Memiliki kans untuk menggerakkan massa dan berpeluang tampil sebagai tokoh yang tersehor. Ada pangkat dan prestise yang menjadi jaminan untuk memuluskan relasi. Belum lagi jaminan material yang tentunya adalah efek logis dari jabatan memimpin.

Tetapi apakah gampang menjadi seorang pemimpin? Tidak gampang! Sungguh tidak mudah. Ada sederetan kriteria yang mestinya dipenuhi jika ingin menjadi pemimpin. Kriteria-kriteria itu perlu dipersiapkan selama bertahun-tahun. Perlu latihan dan uji coba yang panjang. Ada proses fit and proper test yang ketat.

Memang ada yang terlahir dalam klan pemimpin namun tentu tidak semua orang dalam klan itu bisa sukses menjadi pemimpin jikalau tidak dibekali dengan bakat dan kecapakan khusus menjadi seorang pemimpin. Ada pula yang terlahir dengan charisma memimpin tetapi itu pun perlu dukungan katerampilan yang mumpuni.
Ada banyak lowongan kepemimpinan; pemimpin organisasi politik, pemimpin agama, pemimpin sekolah, pemimpin LSM, dan lain sebagainya.

Di antara begitu banyak peluang jabatan kepemimpinan itu, tentu yang lebih menarik adalah menjadi seorang pemimpin politik. Politik menjadi magnet kepemimpinan yang diinginkan oleh banyak orang. Wadah persiapannya pun tersedia banyak. Lihat saja di negeri kita ini, ada begitu banyak sekolah politik, ada banyak partai politik yang di dalamnya mempersiapkan kader-kader pemimpin politik bangsa. Orang mulai berarak untuk beraviliasi dengan kelompok partai tertentu dengan niat untuk belajar dan harapannya kelak bisa menjadi seorang pemimpin.

Baca Juga:  Lagi, Ansy Lema Serahkan Bantuan Aspirasi 10 Mesin Rontok Padi Di Kabupaten Belu.

Dalam bacaan injil hari ini, nampak bahwa para murid yang masih melihat Yesus sebagai pemimpin politik juga menginginkan hal yang sama. Yesus dianggap sebagai mesias politik yang tampil membela bangsa-Nya terhadap penjajah Romawi. Itulah yang diinginkan para murid. Karena itu, ketika Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkait, gemparlah para murid.

Para murid gempar bukan karena memikirkan strategi untuk menyelamatkan Yesus melainkan karena kusuk kasak di antara mereka tentang siapakan yang terbesar di antara mereka dan lebih layak menggantikan Yesus. Karena itu, saat Yesus bertanya kepada mereka, apa yang kamu perbincangkan tadi di jalan?, mereka diam. Iming-iming menjadi pemimpin politik memang ada dalam diri para murid. Namun mereka tidak mengerti, kualitas diri macam apa yang harus mereka punyai sebagai seorang pemimpin.

Baca Juga:  J. T. Ose Luan Di Undang PDIP Mengikuti Sekolah Partai Gelombang Ke Dua.

Fenomena itu kira-kira sama seperti di negeri ini, pilpres masih jauh di 2024 namun kegaduhan politik sudah ditabuh mulai sekarang. Mesin partai mulai digerakkan oleh partai-partai. Ada gerakkan curi star dengan kampanye terselubung dan pamasangan baliho di seluruh pelosok negeri. Ada lembaga-lembaga survey yang mulai memasang nama-nama tertentu dan menjualnya ke publik untuk mengetahui elektabilitas sosok tersebut. Kita seolah tidak mempedulikan pemimpin kita yang sedang berjuang untuk menyelamatkan negeri ini dari gempuran aneka masalah, lantas sibuk membicarakan siapa yang harus maju di pilpres dan pileg 2024 yang masih jauh.

Yesus mengetahui hati para murid seperti layaknya juga Yesus mengetahui keinginan hati semua manusia. Yesus tahu bahwa yang dinginkan para murid-Nya adalah menjadi pemimpin. Karena itu Yesus langsung menceramahi para murid tentang kriteria menjadi seorang pemimpin. Ada tiga syarat menjadi seorang pemimpin menurut Yesus: Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.

Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tangah mereka, lalu Ia berkata: Barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku ia menyambut Aku.
Barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.

Tiga hal di atas harus menjadi tree point utama bagi siapa saja, teristimewa seorang kristiani bila ingin manjadi seorang pemimpin. Sejak dini, seorang calon pemimpin harus melatih dirinya untuk menjadi pelayan kemanusiaan. Dia yang senantiasa menghargai nilai-nilai luhur kemanusiaan. Supaya dapat menjadi seorang pelayannan kemanusiaan yang baik, dia harus memiliki kepolosan dan kejernihan hati yang terekspresi tanpa topeng kemunafikkan layaknya seorang anak kecil. Inilah keutamaan yang ada pada Yesus. Dan manakala keutamaan-keutamaan Yesus itu yang diandalkannya maka tentunya dia adalah seorang yang mengutamakan dan mengandalkan Tuhan selalu. Bukan dirinya yang ditonjolkan, melainkan Tuhannya yang selalu dikedepankan.

Baca Juga:  Manek Junior: Kalau Mau Menciderai Anak Silahkan Lanjutkan

Secara singkat, sebetulnya ada dua kualitas utama yang perlu dimiliki seorang pemimpin atau calon pemimpin menurut Yesus, yakni cinta kemanusiaan dan cinta Tuhan.
Marilah kita semua belajar pada Yesus. Belajar menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin politik (dunia) saja dianjurkan supaya belajar dari Yesus, apalagi menjadi pemimpin agama. Dunia ini hanya bisa nyaman kalau para pemimpinnya adem. Dan menjadi pemimpin yang adem hanya terjadi jikalau pemimpin itu tidak jauh dari Tuhan dan segala yang dikehendaki-Nya. Selamat berjuang. Tuhan memberkati. Salve. YP.

Penulis saat ini sedang berkarya di Seminari Lalian, Nenuk, Atambua.

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

Comments

comments