Esperanza

254
RD. Frid Tnopo, Biarawan Katolik, Keuskupan Atambua.

Renungan Katolik Hari Minggu Biasa XXX: Minggu, 24 Oktober 2021 (Markus, 10:46-52).

Oleh: RD. Frid Tnopo

Goberita.id. Pada satu kesempatan makan siang saat retret di Emaus, saya satu meja makan bersama dua orang kakak yang usia imamatnya berbeda delapan dan sembilan tahun di atas saya. Saya memulai percakapan dengan bertanya pada sang kakak yang duduk di sebelah kiri, yang saya ingat beberapa bulan lalu saya melihatnya sakit dan sedang terapi dengan berjalan tanpa alas kaki dari Emaus hingga Lalian pergi pulang. Keluhannya adalah keram yang sangat aneh di kedua telapak kakinya hingga membuatnya tidak nyaman untuk berdiri dan bahkan hampir terjatuh saat merayakan Ekaristi.

Bagaimana dengan penyakit kakak sekarang?, saya bertanya. “Sudah mendingan adik, sudah jarang kambuh, saya sudah nyaman merayakan Ekaristi kembali, jawab sang kakak. Lanjut dia berceritera: “saya memang merasa aneh dengan penyakit ini. Pemeriksaan medis mulai dari puskesmas hingga rumah sakit ternama di Kabupaten maupun Propinsi, konsultasi dengan beberapa dokter dari beragam profesi, ada berbagai jenis obat baik kimia maupun herbal yang dianjurkan orang-orang telah saya konsumi, anjuran untuk general chekup hingga cityschan sudah saya lakukan, tetapi semua mengatakan baik dan normal. Saya minum obat sampai iritasi lambung, mual dan pusing, tetapi tidak sembuh-sembuh. Lalu dokter menganjurkan untuk stop konsumsi obat. Nah, Justru sekarang, saat tidak lagi konsumsi obat, teristimewa obat-obat kimia, saya merasa sudah mulai nyaman. Sudah jarang kambuh dan saya sudah bisa berdiri dan bisa merayakan perayaan ekaristi lagi.

Dari ceritera kakak itu saya tahu, ada kecemasan yang besar tetapi ada pula keinginan dan harapan yang kuat untuk sembuh. Selain upaya medis, tentu sebagai pastor pastilah doa adalah obat utama.

Baca Juga:  Kepergian Romo Maxi, Umat Paroki Stella Maris Atapupu Sangat Kehilangan

Kakak yang duduk di sebelah kanan saya menyimak dengan sungguh-sungguh ceritera sang kakak yang sakit itu. Kakak itu lalu berkata: Adik, itu berarti bukan penyakit sungguhan tetapi sakit psikologis, maka penyembuhannya pun harus secara psikologis. Buktinya, ketika lepas obat, tidak lagi minum obat, penyakit itu tidak kambuh lagi. Mulai sekarang tanamkan dalam pikiran bahwa “saya tidak akan sakit lagi.” Saat memimpin perayaan ekaristi katakan dalam diri “saya tidak akan jatuh”. Ulang-ulang terus pikiran-pikiran positif dalam hati dan budi maka lama-lama penyakit itu akan hilang. Selalu berharap bahwa saya pasti sembuh.

Lalu kakak itu mencontohkan beberapa kisah dari orang-orang yang sudah berhasil bebas dari beban mabok mobil jika bepergian dengan menggunakan metode sugesti positif seperti itu. Menurutnya, ini namanya teori behavioristik. Kebetulan kakak ini tamatan Fakultas Pikologi Unika Atma Jaya Jakarta.

Terlepas dari aneka perlakuan medis, saya melihat ada satu kata yang sangat kuat nilai rohaninya dibalik anjuran kakak pastor psikolog itu, yakni Esperanza (Harapan).
Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memiliki harapan untuk pulih mempunyai kondisi kesehatan yang lebih baik daripada mereka yang merasa tidak memiliki harapan dan menyerah pada nasib. Harapan itu penting karena dapat membuat masa kini sedikit lebih ringan untuk dipikul. Jika kita percaya bahwa hari esok akan lebih baik, kita akan mampu menanggung penderitaan hari ini.

Harapan akan hari esok yang lebih baik inilah yang dipegang teguh oleh Bartimeus, anak Timeus dalam kisah Injil Markus hari ini. Ia buta tetapi ia selalu melihat bahwa hari esok akan datang membawa kebaikan baginya. Itulah sebabnya ia duduk di pinggir jalan. Jalan adalah harapan. Atau sebaliknya, harapan adalah jalan. Jalan itulah yang membawa berita bahagia bagi Bartimeus. Ia mendengar dengan telinganya bahwa Yesus yang membuat banyak mukjizat akan lewat di situ, di jalan itu. Dia duduk di jalan itu. Dan datanglah Yesus melewati jalan itu. Dan harapannya terjawab di jalan itu.

Baca Juga:  Covid-19/Korona. Uskup Atambua Belu NTT: Video Uji Klinis Para Ahli Penting Untuk Kesadaran Sosial

Ketika Yesus benar-benar lewat di jalan itu ia bergirang dan berteriak, “Yesus anak Daud, kasihanilah aku!. Semakin dilarangnya lebih keras lagi dia berteriak, “Anak Daud, kasihanilah aku!. Saking girangnya ia menanggalkan jubuhnya dan mendekati Yesus. Seketika itu ia lupa akan kebutaannya dan hanya fokus pada Yesus Anak Daud penuh kuasa. Dan dia sadar dia orang berdosa.

Kini dia tahu, dia sedang berada di jalan yang sama bersama Tuhan. Tanpa memintanya terlebih dahulu pun, Yesus akan memberikan kepadanya apa yang dia butuhkan. Dia buta dan dia percaya Yesus sedang melihat dia buta. Dia tidak berkata-kata tetapi dia berharap dalam iman dan diam. Karena itu, ketika memelekkan matanya Yesus mengatakan, “pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Harapan itu bisu; Tidak dapat berkata-kata tetapi terus bergelora menuju kebahagiaan. Harapan itu buta; tidak dapat melihat namun selalu percaya bahwa hari esok yang lebih baik akan datang. Harapan itu tuli; tidak dapat mendengar tetapi ia selalu mengenali suara Tuhan. Barang siapa selalu memiliki harapan, dia akan selalu berada di jalan Tuhan. Berada di jalan yang sama bersama Tuhan. Pada saat itulah Tuhan akan melihatnya dalam keadaan yang sebenarnya dan Tuhan akan memberikan kepadanya apa yang dia butuhkan.

Baca Juga:  Maria dan Ein Karem

Sebenarnya bagi orang Kristen, kecewa, cemas dan putus asa selalu ada solusinya. Apapun keadaannya sekarang ini, bahkan yang terpuruk sekalipun, asalkan saja dia mengetahui jalan Tuhan, tanggalkanlah jubah/baju egoismemu dan pergi duduk di pinggir jalan itu, Tuhan akan lewat di situ, dan Dia akan larut dalam sukacita bersamamu.

Apapun masalahmu, sakit penyakit, tantangan dan kesulitan hidup, asalkan engkau mengetahui jalan Tuhan, ke situlah sebenarnya arah harapanmu. Jangan justru melarikan diri semakin jauh ke tengah belantara dunia, kamu akan tersesat dan terasing di antara makhluk hutan.

Kakak pastor yang saya kisahkan di atas, sekarang sementara berbahagia menikmati masa pemulihannya. Bahkan katanya terkadang ia boleh makan daging dengan sukacitanya sekalipun memang harus terbatas porsinya. Bartimeus akhirnya sembuh dari kebutuaannya di jalan Tuhan. Kedunya sembuh karena sama-sama melihat masa depan dengan penuh harapan di jalan Tuhan.

Marilah kita terus menjaga posisi kita di jalan Tuhan. Jangan kendor, jaga tempo. Cepat atau lambat Tuhan akan lewat di situ. Kecemasan akibat penyakit dan aneka masalah disebabkan oleh dunia, dan oleh karena itu dunia tidak mungkin menyembuhkannya. Tuhan pun tidak layak untuk dipersalahkan dalam kasus itu. Satu-satunya jalur harapan kita adalah Kuasa Tuhan. Selamat bermenung. Tuhan memberkati. Amin.YP.

Penulis adalah Biarawan Katolik yang sedang berkarya di Seminari Lalian, Nenuk.

Yan Pareira
Author: Yan Pareira

Contack : Phone: +62 812-3986-2111, Email: goberita@gmail.com

Comments

comments